Kamis, 26 September 2013

SEKOLAH, JANGAN PILIH-PILIH

KUPANG – RND, Masayarakat dan orang tua wali murid calon calon siswa baru d Kota Kupang dihimbau untuk tidak pilih-pilih sekolah untuk anaknya, karena saat ini kualitas sekolah baik tingkat SD, SMP dan SMA rata-rata semuanya sama.

Himbauan in disampaikan Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek, menjawab pertanyaan wartawan  terkait kebiasaan masayarakat atau orang tua wali murid calon siswa baru dalam memilih-milih sekolah sehingga terjadi penumpukan dan kelebihan rombongan belajar pada sekolah tertentu saat penerimaan siswa.

Hurek, kepada wartawan dalam jumpa pers di ruangan kerjanya, Rabu,  (15/6) siang, menjelaskan, berdasarkan hasil evaluasi dan hasil Ujian Nasional tahun 2011 terlihat , kuliats sekolah yang ada di Kota Kupang rata-rata sama.

Perbandingan nilai rata-rata  hasil Ujian Nasional tahun 2011, lanjut Hurek mencontohkan, nilai rata-rata pada SMAN 5 Kupang hampir sama dengan nilai rata-rata pada SMAN 1 Kupang.

“Ini mengindikasikan, persepsi masyarakat bahwa kualitas sekolah dalam melakukan pembinaan dan proses belajar mengajar pada SMAN 5 Kupang sama dengan SMAN 1 Kupang. Kualitasnya rata-rata sama,”  ungkap Hurek.

Lebih jauh, Hurek mengatakan, masyarakat Kota Kupang, hendaknya melihat bahwa tanggungjawab menjadikan anak didik agar lebih baik bukan saja menjadi tanggungjawab satu instrument yang namanya sekolah dan guru. Tetapi menajdi bagian  yang tidak terpisahkan dari instrumen pendidikan yang namanya orang tua atau keluarga. Dan Tugas pemerintah adalah memfasiltasi kebijakan agar semua lembaga pendidikan memiliki kualitas pembelajaran yang sama.

Oleh karena itu, Hurek meminta kepada masyarakat dan orang tua wali murid, pada saat mendaftarakan anak sebaiknya jangan memilih-memilih sekolah agar tidak terjadi penumpukan rombongan belajar pada sekolah tertentu.

Ditanya soal kapan waktu pembukaan perimaan siswa baru, hurek mengatakan, itu menjadi tanggungjawab dinas teknis melalui petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis penerimaan siswa baru.

Kepala Dinas PPO, Kota Kupang,. Maxwell Halundaka, yang dikonfirmasi Erende Pos, Rabu, (15/6) siang di ruangan kerjanya, mengakui bahwa, pihaknya belum menyusun petunjuk pelaksanaan dan petunju teknis yang mengatur pelaksanaan penerimaan siswa baru tahun 2011.

“Juklak dan Juknis belum ada. Kami belum rapat untuk itu penerimaan siswa baru. Dalam waktu dekat kami akan melakukan rapat untuk membahas PSB,” kata Halundaka. Disinggung soal, apakah nanti pembahasan Juklak dan Juknis melibatkan Komisi C, DPRD Kota Kupang mengungkapkan akan dibicarakan dalam waktu dekat. (san)

Naskah ini ditulis dan dimuat di Harian RND POS edisi 16 Juni 2011

BANYAK SPT WAJIB PAJAK TERBACA NIHIL


KUPANG – RND, Masyarakat Kupang, dinilai telah melaporkan wajib pajaknya dengan baik  tetapi soal kualitas laporannnya perlu ditingkatkan lagi karena masih sangat rendah. Khususnya kesadaran dan kejujuran wajib pajak dalam memberikan laporan soal pajak penghasilan. Karena banyak SPT wajib pajak yang dikembalikan terbaca nihil.

Kepala Pewakilan Pajak Pratama Kupang, Johny Victor, melalui Kepala Seksi Pelayanan, Made Nupada, SE, kepada Erende Pos, di ruangan kerjanya, Rabu, (15/6) siang.

Nupada dimintai tanggapan terkait kesdaran masyarakat Kupang dalam memasukan laporan wajib pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kupang. Dia menjelaskan, kualitas laporan semua wajib pajak di Kupang masih sangat memperihatinkan dan rendah karena karena kebenaran dan keabsahan dari laporan penghasilan wajib pajak banyak yang tidak benar.

“Ini soal kesadaran masyarakat dalam memberikan laporan wajib pajak secara jujur terkait pajak penghasilan,” jelas Nupada.

Pihaknya, demikian, Nupada mengalami kesulitan dalam menilai dan mengetahui kejujuran laporan pajak penghasilan oleh wajib pajak, karena pihaknya tidak mengelolah data pajak penghasilan wajib pajak. Wajib pajak sendiri yang mengelolah dan menghitung pajak penghasilan sehingga kualitasnya sangat rendah. “Ini ada indikasi manipulasi pajak penghasilan dalam laporan wajib pajak,” ungkapnya.

Hal ini  terbaca dari pengamatan Pelayanan Pajak Pratama Kupang terkait perkembangan ekonomi masyarakat Kupang megalami kemajuan yang cukup pesat, akan tetapi dalam laporan pajak penghasilan masih sangat rendah.

“Banyak SPT yang dikembalikan kepada kami dengan perhitungan nihil,” kata Nupada sambil geleng-geleng kepala.

Dilihat dari SPT yang dikembalikan wajib pajak kepada pihaknya, ditemukan banyak SPT terbaca nihil. Dari SPT yang nihil ini, Nupada menegaskan bahwa, masyarakat atau wajib pajak tidak secara jujur mengelolah dan mengisi pajak penghasilannya.

“Ini baru terbaca dalam SPT. Belum kita lakukan pendalaman dan cross cek ke lapangan soal kebenaran SPT tersebut,” jelasnya.

Persoalan ini, lanjut Nupada, terjadi karena salah persepsi wajib pajak dalam mengisi dan mengelolah pajak penghasilan. Bahwa, wajib pajak hanya mengisi dan melaporkan pajak penghasilan dari penghasilannya sebagai karyawan, pada hal yang benar adalah, selain penghasilannya sebagai karyawan atau pegawai, pajak penghasilan juga dihitung dari penghasilan lain yang menjadi usaha wajib pajak dalam kesehariannya.

“Banyak wajib pajak yang hanya mengisi pajak penghasilan dari penghasilannya sebagai karaywan. Sementara yang benar adalah semua penghasilan yang menjadi usaha dan menghasilkan uang oleh wajib paja tersebut wajib di laporkan dihitung pajak penghasilannya,” jelas Nupada.

Oleh karena itu, Nupada meminta, kepada masyarakat wajib pajak untuk menghitung dan mengelolah laporan wajib pajaknya dengan jujur dan benar. (san)

naskah ini ditulis dan dimuat pada Harian RND Pos, edisi 16 Juni 2011 

MEMBUANG UMPAN, MENANGKAP UDANG


Politik itu seni. Seni memainkan strategi. Seni membuang isu. Juga seni menyusun skenario.

Helatan Pilkada Bali 2013 telah mulai diramaikan warna-warni jual beli isu politik. Belakangan ini Ketua DPD PDIP Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi membuang “umpan” memainkan skenario dalam sebuah drama politik.

Umpannya tak lain Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Bila kita mengibaratkan politik sebagai kali dan politisi partai politik itu sebagai udang, maka semua politisi Bali harus mengakui kepiawaian Tjok Rat, begitu ketua PDIP Bali itu biasa disapa, dalam memainkan isu. Isunya sederhana, PDIP tak lagi mau mengusung paket non kader dalam pilgub 2013.

Tjok Rat, dengan jam terbang politik sekelas Megawati Soekarno Putri, tentu tahu benar bagaimana menangkap udang (Partai Politik-red) yang sedang bersembunyi di balik batu. Pasalnya sampai saat ini belum satu pun partai politik secara gamblang mengusung paket di Pilgub Bali 2013. Golkar beralasan, masih menunggu survei. Aturan klasik partai yang dipimpin Sudikerta ini. Demikian halnya Demokrat, belum menelorkan paket yang akan diusung.

PDIP tak mau kecolongan. Ratmadi lalu memainkan skenario, sekadar mengetahui arah angin politik partai. Dan benar adanya. Ketika Ratmadi membuang umpan ke pentas politik, publik pun geger. Air menjadi keruh. Panggung politik DPRD Bali sungguh heboh. Ratmadi yang seringkali tak mau bicara banyak ketika diwawancarai beberapa media saat itu, sungguh berbeda dari biasanya.  

Tak seperti beberapa kader partai yang langsung menyergap umpan tersebut, Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Wagub Puspayoga, paket yang diusung PDIP, tak  bergeming.

“Belum ada tanggapan soal itu,” jawab Pastika singkat saat beberapa wartawan meminta tanggapannya di Wantilan DPRD Bali. Senada dengan Pastika, Puspayoga pun enggan berkomentar. “Tanyakan saja pada Pak Gubernur,” tangkisnya.

Elektabilitas Meyakinkan
Sementara politisi Demokrat, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Bali  Nengah Tamba, langsung melontarkan paket Made Mangku Pastika dan Made Mudarta, yang diistilahkannya Paket M3.

Tamba menilai popularitas Mangku Pastka masih moncer. Masih layak di pasaran politik Pilgub 2013. Tak sekadar memberikan penilaian. “Sejak Pak Mangku jadi gubernur, mana ada bom yang meledak di Bali. Ini salah satu indikasi keberhasilan. Begitu pula dengan peningkatan PAD. Sangat signifikan. Ini artinya Pastika masih layak memimpin Bali,” tegas Tamba, seraya memberikan garansi, bila PDIP tak lagi mau mengusung Pastika, Demokrat siap mengusung Paket M3-Made Mangku Pastika ditandemkan dengan Made Mudarta.

Melihat peluang politik dan kemungkinan ini, Tamba menegaskan, bukan tidak mungkin apabila paket M3 ini benar-benar terwujud. Pasalnya, tingkat elektabilitas Made Mangku Pastika sebagai Gubernur Bali saat ini mendapat tempat yang cukup meyakinkan di hati masyarakat Bali.

“Mangku Pastika masih diinginkan oleh masayarakat. Tingkat elektabilitasnya masih tinggi di tingkat akar rumput. Layak kalau Pastika masih menjadi gubernur untuk periode kedua,” tegas Tamba.

Apalagi Mangku Pastika masuk dalam daftar survei Partai Demokrat. Dan bukan tidak mungkin rancang politik Demokrat untuk memgusung paket M3 bisa menjadi kenyataan apabila PDIP benar-benar tidak mengusung Pastika lagi.

Tamba lalu menambahkan proses pencalonan di partainya memang memiliki beberapa prosedur. “Ada survei, ada juga TimSembilan. Bisa mungkin Pastika menjadi calon dari Demokrat,” tegasnya.



TAK MAU KECOLONGAN______________________

BEDA dengan Ketua DPD Partai Demokrat Bali, Made Mudarta, yang menanggapi santai tak mau termakan umpan.  
“Ini strategi Pak Tjok Rat. Beliau itu jam terbang politiknya sudah tinggi. Kalau diibaratkan seperti pesawat Boeing, tidak tahu Pak Tjok itu sudah pada posisi Boeing ke berapa. Ini adalah strategi politik Pak Tjok untuk meneropong kader PDIP,” ungkap Mudarta.

Mudarta menegaskan, wacana yang dilempar oleh Tjok Ratmadi tersebut adalah bagian dari pernyataan politik untuk menguji popularitas Made Mangku Pastika. Artinya, ketika semua partai menanggapi wacana ini dengan membuat pernyataan menggandeng Pastika bila dilepas oleh PDIP, maka popularitas Mangku Pastika masih laku untuk “dijual” karena menjadi rebutan banyak partai politik.

“Pak Tjok itu jago. Jadi kita jangan menelan utuh pernyataan Beliau. Harus dicerna,” ungkap Mudarta.

Ketika disodorkan paket M3 (Made Mangku – Mudarta), Ketua DPD Demokrat Bali ini malah membuang kata, dirinya lebih siap menjadi gubernur ketimbang wakil gubernur.

“Kalau perintah partai untuk saya maju sebagai wakil gubernur, sebagai kader saya siap,” tegas pengusaha muda ini kepada Suluh Bali.

Analisa politik Made Mudarta benar. Tjok Rat sedang menguji kesetiaan kader PDIP, yang kabarnya  berada dalam tiga kelompok.




LEPAS PASTIKA = BUNUH DIRI_____________________
Jika berani melepaskan Mangku Pastika, PDIP sama dengan bunuh diri. Warning tersebut disampaikan Dewa Nyoman Rai, politisi PDIP di DPRD Bali belum lama ini di ruangan Baleg.  Ia menegaskan, Mangku Pastika adalah kader PDIP. “Ketika Mangku Pastika mendaftar dulu di PDIP, dia memiliki KTA PDIP. Dia kader PDIP,” ungkap Nyoman Rai.

Selain Pastika kader PDIP, Nyoman Rai sungguh mengakui keberhasilan Pastika selama memimpin Bali. Bali menjadi lebih hidup dalam berbagai bidang di bawah kepemimpinan Pastika. Oleh karena itu Dewa Nyoman Rai tegas bersuara, bila pernyataanTjok Ratmadi itu sebagai bentuk keseriusan ingin melepas Pastika, sama dengan PDIP membunuh diri sendiri.

Soal Pastika itu kader atau bukan kader PDIP, sudah dipastikan bahwa Mangku Pastika memiliki KTA PDIP, tetapi itu hanya sebatas simpatisan. Buktinya, saat resuffle Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Taufik Kiemas meminta agar Pastika menjadi menteri, padahal saat itu Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri lantang bersuara, PDIP mengambil posisi oposisi. Taufik Kiemas saat meminta Pastika menjadi menteri karena dia tahu bahwa Pastika hanya seorang simpatisan bukan kader partai. ***

Naskah ini yang dimuat di Tabloid Suluh Bali edisi Oktober 2012

Rabu, 25 September 2013

AKAN SIA-SIA BILA TAK DILATIH SEJAK BAYI


Pada dasarnya, semua orang terlahir dengan kreativitas masing-masing. Talenta atau bakat memang tidak bisa diajarkan, namun dengan mengasah kemampuan panca indera, seperti mata, telinga, dan pikiran mereka sejak dini, anak-anak pun terlatih untuk lebih kreatif. Orangtua juga bisa melatih anak-anak sejak masih bayi untuk mendapatkan kepercayaan diri, konsentrasi, dan kemampuan untuk beradaptasi berperan penting dalam melatih kreativitas anak.
 
Sebab itu, Santy Sastra Production bekerja sama dengan Bali Royal Hospital menggelar lomba bayi sehat dan anak kreatif untuk mempersiapkan manusia Indonesia yang berkualitas dan produktif. Alasannya sangat sederhana digelarnya kegiatan ini, agar tercipta generasi penerus yang handal bagi pembangunan harus dilakukan sejak dini, karena itu upaya pembinaan dan pengembangan anak penting untuk lebih ditingkatkan.
Tahun 2013, pada 7 Juli lalu bertempat di aula Dinas pendidikan Pemuda dan Olaraga Provinsi Bali, Lomba Bayi sehat dan kreatif ini akan digelar. Persayaratannya pun mudah saja. Cukup mengirimkan foto bayi dan akte kelahiran. “Satu hari sebelum perlombaan panitia akan menghbungi orang si bayi apabila lolos masuk final,” ungkap Direktris Santi Sastra Production, Putu  Suprapti Santy Sastra, SH kepada Suksesi (Jawa Pos Group), di Denpasar, Senin, 24 Juni 2013.
Santy Sastra
Santy Sastra menjelaskan, beberapa manfaat lomba ini, sebut saja, sebagai ajang melatih kemampuan motorik bayi, misalnya untuk merangkak atau menggapai sesuatu, melatih keberanian bayi untuk menghadapi tantangan lomba atau bertemu  orang baru, kesempatan bayi untuk bersosialisasi karena dia bisa bertemu, berinteraksi dengan bayi-bayi lain dan juga orang dewasa selain keluarganya, para orangtua pun punya kesempatan bersosialisasi dengan orangtua lain yang punya anak seusia, meningkatkan bonding antara orang tua dan bayi. Mengikuti lomba membuat orang tua lebih mengenal kemampuan anak, selain bisa menghabiskan waktu bersamanya.
Disinggung soal kategori, Sastra mengungkapkan, empat kategori yakni kategori bayi sehat A untuk bayi 0-1 tahun, kategori bayi sehat B untuk bayi berumur 1-3 tahun, foto ceria A untuk bayi 0-2 tahun, foto ceria B untuk bayi usia 2-4 tahun.
“Sementara untuk mewarnai untuk Balita 2-4 tahun. Untuk semua kategori ini dibatasi peserta hanya 50 orang bayi. Syaratnya juga muda, kalo ikut lomba foto cukup fotonya saja max 3 lbr dengan berbagai gaya dan fcopy akte lahir dikirim saat pendaftaran. Panitia menghubungi orangtua sehari sebelm hari H jika masuk final. Jika ikut lomba bayi sehat ckp fotocopy akte lahir saat mendaftar, saat hari H bayinya diperiksa bawa serta kartu sehat bayi. 
Murah penddaftarannya, hanya limapuluh ribu,” demikian Sastra kepada Suksesi (Group Jawa Pos) di Denpasar, sembari menohok kegiatan ini didukung oleh BPR Artha Bali Jaya dan Anmum. (isa)
Naskah ini ditulis d dimuat pada Suksesi, Jawa Pos Group, 28 Juni 2013

Banggakah Orang Bali Menjadi Petani Subak?



Orang Bali mesti bangga memiliki subak. Bukan karena penghargaan Unesco itu. Tetapi lebih pada warisan ini adalah satu-satunya didunia. Tidak ada lagi selain di Pulau Bali ini. Bila sudah bangga memiliki subak, apakah Orang Bali juga bangga sebagai petani subak..?

sawah subak di bali//
Tengoklah sejenak ke pematang sawah orang disebut subak itu. Ada berapa banyak generasi muda bermandikan keringat seraya menanam padi. Mereka yang pematang subak itu rata-rata sudah terlalu tua, sementara anak-anak serta cucu-cucu mereka yang masih muda tak pernah sudi berada didesa menjadi petani. Ke kota, dan tentu saja industri, menjadi pegawai negeri atau pegawai perusahaan swasta, adalah tujuan utama para generasi muda Bali saat ini.

Ironi memang. Bali yang dikenal sebagai bangunan budaya agraris sejak abad XI, kini hanyalah sebuah bangunan rapuh yang jika tidak segera mendapat perhatian dan langkah-langkah penyelamatan, akan segera rontok di tengah perilaku hedonis dengan lakon yang kasar.

Sementara itu pemerintah selalu menekankan bahwa pertanian harus diselamatkan. Tanah-tanah pertanian, baik perkebunan maupun persawahan harus dicegah dari pengalihfungsian lahan yang semakin menggila. Tetapi jika petani yang tersisa hanya para sepuh dengan tenaga mereka yang sudah tua.

Kampanye-kampanye pemerintah seakan masuk telinga kiri lalu tembus telinga kanan tentang penyelamatan dan pelestarian pertanian di Bali karena semangat kaum muda Bali untuk meninggalkan kehidupan bertani itu sendiri sungguh tidak diragukan lagi.

Bagaimana mungkin pertanian itu bisa diselamatkan? Bagaimana mungkin Bali dengan pertaniannya bisa dilestarikan? Jangan dulu pesimis mesti optimis untuk menyelamatkan pertanian subak karena Nyoman Gde Putra Astawa, Tutik Tutik Kusumawardani dan Made Mangku Pastika memliki solusi untuk itu.

Hal yang paling penting dilakukan saat ini, Kata Tutik Kusumawardani, tidak boleh membuat petani frustrasi. "Pajak yang tinggi, hasil pertanian yang tidak menjanjikan karena terkadang lebih besar dari pengeluaran, itu yang buat petani frustrasi. Orang bali tak lagi bangga menjadi petani. Karena sudah tidak bangga inilah timbul perilaku menjual lahan pertaniannya. Kondisi ini harus dicarikan jalan ke luar jika tidak ingin pertanian di Bali hanya tinggal cerita," tutur mantan Calon Bupati Buleleng dari Demokrat itu.

Dengan harapan, alih fungsi lahan tidak menjadi-jadi dan petani tetap merasa nyaman untuk bertani. "Harus ada semacam perda khusus yang mengatur soal lahan pertanian. Memang ada Perda RTRW, namun faktanya masih setengah hati dijalankan oleh kabupaten dan kota," ujar Tutik, seraya membeberkan alih fungsi lahan pertanian selama lima tahun terakhir sebanyak 5000 hektar artinya sekitar 1000 hektar/tahun.

Solusi lainnya yang ditawarkan untuk menekan alih fungsi lahan ini, selainperda khusus, imbuhnya, pemerintah juga perlu membangunkan lahan tidur yang selama ini sama sekali tidak dilirik. "Masih banyak lahan tidur di Bali, seperti di Karangasem, Buleleng dan Klungkung. Lahan-lahan yang selama ini dinilai tidak produktif, harus mulai dioptimalkan," ucap srikandi Demokrat itu.

Soal adalah alokasi anggaran untuk pertanian di Bali saat ini, masih sangat minim. Bahkan tiap tahunnya, anggaran untuk sektor ini belum mencapai 3 persen. "Padahal, idealnya anggaran untuk pertanian itu minimal harus 10 persen," kata anggota Komisi II DPRD Bali Nyoman Gde Putra Astawa.

Untuk tahun anggaran 2012 ini, anggaran di sektor pertanian memang sangat minim dibanding sektor lainnya. Khusus untuk tanaman pangan, dalam APBD Bali dialokasikan Rp36,2 miliar dan dari APBN sebesar Rp74,5 miliar.

Adapun untuk sektor perkebunan, dari APBD Bali jumlahnya sebesar Rp7,1 miliar dan dari APBN mencapai Rp18,8 miliar. Sementara untuk sektor peternakan dianggarkan sebesar Rp12,4 miliar dari APBD Bali dan Rp84,5 miliar dari APBN.

"Dengan anggaran yang minim ini, tentu sektor pertanian tetap terpuruk di bawah dua sektor lainnya yang mendukung perekonomian Bali, yang pariwisata dan jasa serta infrastruktur," tutur politikus PDIP ini.

Menurut Putra Astawa, sektor pertanian sesungguhnya mampu menopang ekonomi Bali. Ini dibuktikan ketika sebelum industri pariwisata berkembang, sektor pertanian menjadi yang terdepan dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat Bali. Ketika Bali diguncang bom, sektor pertanian tetap bertahan. Bahkan sektor ini menunjukkan geliatnya saat pariwisata Bali terpuruk setelah dihantam bom.

Pemerintah diharapkan memberikan perhatian yang serius terhadap sektor pertanian. Perhatian tersebut dapat berupa alokasi anggaran sebesar 10 persen serta membuat regulasi khusus agar sektor pertanian kembali bergairah.

“Dalam perda ini nanti diatur lahan-lahan yang dilarang untuk dibangun. Soal perhatian pemerintah daerah untuk para pemilik lahan, seperti berupa insentif kepada petani, harus ditegaskan di dalamnya,” tegas Astawa.

Dengan begitu, upaya mempertahankan lahan pertanian menjadi lebih konkrit, dan orang Bali akan bangga menjadi petani subak. Kalaupun semua solusi yang ditawarkan diatas tak sempurna diwujudkan, seyogyanya, orang Bali mesti bangga menjadi petani subak.
Banggakah orang Bali menjadi petani subak ? Ini sekedar pertanyaan Reflektif saja..***








Untung Ada Unesco.?_____________________________
 
“Pengaturan tentang subak sudah dilakukan pada tahun 1972 melalui perda nomor 02/PD/DPRD/1972 tentang irigasi yang ditetapkan pada tanggal 13 Desember 1972 oleh DPRD Bsli saat itu,” jelas Mangku Pastika saat rapat paripuran tentang renperda Subak di Gedung DPRD Bali sepekan silam.

Made Mangku Pastika/Gubernur Bali
Perda ini menurut Pastika sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan dan kebutuhan terkini. Oleh karena itu, mesti ada perda baru yang mengatur soal perda ini. Dan pemerintah provinsi Bali melalui tim proledga yang melibatkan instansi terkait dan kelompok ahli bidang hukum sedang melakukan pembahasan soal materi ranperda ini.

Perubahan perda nomor 02 tahun 1972 ini sungguh dibutuhkan tetapi rasanya pemerintah terlambat bila tak mau dibilang baru sadar (maaf) untuk mengurus subak dengan segala tetek bengek persoalannya dalam sebuah aturan yang baku. 

Bayangkan sejak abad XI sampai tahun 1972 baru ada satu aturan yang namanya perda dalam mengatur soal subak. Dan sejak tahun 1972 sampai dengan tahun 2012, baru sadar untuk merubah perda subak itu. Mungkin karena penghargaan Unesco itu-Mudah-mudahan bukan karena itu. Ironi memang, untung ada penghargaan Unesco sehingga ranperda tentang subak menggelitik hati para pemangku kepentingan. Bila tidak, apa kata lelulur Bali.?

Gaung subak dihati masayarakat Bali kalah bergemah dengan gemuru pariwisata. Buktinya, alih fungsi lahan pertanian di Bali kian mengkhawatirkan. Perkembangan industri pariwisata yang menggiurkan, memberi andil besar bagi keadaan ini. Ditambah lagi perhatian pemerintah di sektor pertanian masih setengah hati, sehingga menjadikan minat masyarakat untuk bertani semakin menurun. (sandro wangak)-naskah berita yang ditulis untuk Tabloid Suluh Bali